General
Draft

Logika Hermeneutis Sensus Divinitatis dalam Pemikiran Calvin

John Calvin membuka Institutes of the Christian Religion dengan satu gagasan penting: bahwa di dalam pikiran manusia sebenarnya sudah ada kesadaran tentang Allah. Setiap orang memiliki semacam “rasa akan yang ilahi.” Namun, kesadaran ini masih tersebar, belum jelas, dan belum cukup kuat untuk menolong manusia mengenal Allah dengan utuh. Di sinilah peran Kitab Suci menjadi sangat penting. Alkitab berfungsi seperti lensa yang mengumpulkan dan memfokuskan kesadaran tersebut, sehingga menjadi terang dan terarah. Melalui Kitab Suci, pengetahuan tentang Allah yang semula samar menjadi jelas dan dapat dipahami dengan benar (Calvin 1845, I.6.1). Pernyataan ini hadir dalam susunan Institutes sendiri sebelum segala klaim tentang sensus divinitatis sebagai disposisi universal. Urutan ini, jika dibaca secara dialektis, membuka sebuah prosedur yang jarang diperhatikan: Kitab Suci mendahului dan mengonstitusi apa yang baru kemudian dapat dikenali secara teologis. Ketika Calvin menegaskan bahwa "it is impossible for any man to obtain even the minutest portion of right and sound doctrine without being a disciple of Scripture" (Calvin 1845, I.6.3), ia menetapkan prosedur sebelum mengumumkan kesimpulan. Kesimpulan itu baru hadir di Bab 3: bahwa "a sense of Deity is indelibly engraven on the human heart" (Calvin 1845, I.3.3). Dibaca dalam urutan ini, sensus divinitatis tampil sebagai objek hermeneutis, suatu realitas kognitif yang hanya dapat diartikulasikan dari dalam praksis pembacaan Kitab Suci. Tegangan ini beroperasi sebagai spiral hermeneutis: Kitab Suci memerlukan sensus sebagai praesuppositum, sementara sensus baru menjadi objek teologis yang dapat diartikulasikan setelah Kitab Suci mengonstitusi kerangka interpretasinya. Pembacaan ini berhadapan dengan tiga kecenderungan yang lazim dalam studi Calvin. Kecenderungan pertama menempatkan sensus divinitatis sebagai datum antropologis yang mendahului dan mengondisikan pembacaan Kitab Suci, suatu kapasitas kognitif yang beroperasi secara independen dari prosedur hermeneutis apa pun. Kecenderungan kedua, yang diwakili oleh kajian Aubert (2022) dan Ryoo (2017), berhasil mendeskripsikan metode Calvin secara memadai: Aubert mengidentifikasi fungsi analogia fidei sebagai kaidah koherensi teologis dan kesatuan organik antara Institutes dan komentar-komentarnya, sementara Ryoo menegaskan bahwa orientasi Calvin pada intentio auctoris bertumpu pada keyakinan teologis bahwa intensi penulis manusiawi dan intensi Roh Kudus adalah satu dan tak terpisahkan. Dalam kerangka yang lebih luas, Pitkin (2009) telah memetakan perkembangan studi eksegesis Calvin secara komprehensif, menunjukkan bahwa penelitian sejak pertengahan abad ke-20 telah berhasil mengidentifikasi fitur-fitur distingtif dari praksis penafsiran Calvin, yaitu komitmennya pada eksposisi yang berkesinambungan dan ringkas (brevitas et facilitas), orientasinya pada pikiran penulis (mens auctoris), serta hubungan organik antara Institutes dan komentar-komentarnya sebagai satu program hermeneutis yang terpadu. Kajian-kajian yang Pitkin survei, mulai dari Parker (1971) hingga Steinmetz (1995) dan Engammare (1994), secara kolektif telah membangun pemahaman yang solid tentang bagaimana Calvin menafsir: genre eksposisi apa yang ia gunakan, sumber-sumber apa yang ia konsultasikan, dan bagaimana ia memposisikan dirinya dalam tradisi eksegesis yang lebih panjang. Namun, sebagaimana tercermin dari agenda survei Pitkin sendiri, fokus tradisi ini tetap pada eksegesis aktual dan diseminasi program penafsiran Calvin, bukan pada mekanisme epistemologis yang menghasilkan klaim antropologisnya. Kecenderungan ketiga hadir dalam tradisi Reformed epistemology yang dipelopori Alvin Plantinga (2000), yang mengapropriasi sensus divinitatis Calvin sebagai fondasi bagi properly basic belief, suatu kepercayaan religius yang sahih tanpa memerlukan justifikasi inferensial dari luar dirinya. Paul Helm, dalam John Calvin's Ideas (2004), memberikan tanggapan kritis terhadap apropriasi ini dengan berargumen bahwa Calvin adalah seorang evidentialist dengan ekspektasi yang nyata namun terbatas terhadap pengenalan Allah melalui jalur natural, sehingga sensus divinitatis dalam Calvin beroperasi dalam kerangka yang lebih kognitif dan evidensial daripada yang diasumsikan oleh Reformed epistemology (Helm 2004, 7). Kritik Helm ini justru membuka ruang bagi pertanyaan yang lebih mendasar: jika sensus divinitatis bukan premis non-inferensial sebagaimana diklaim Plantinga, maka pertanyaan tentang prosedur yang menghasilkan klaim itu menjadi tak terhindarkan. Helm sendiri lebih tertarik pada pertanyaan tentang posisi epistemologis Calvin daripada pada mekanisme hermeneutis yang membuat klaim Calvin koheren dalam kerangkanya sendiri, sehingga celah itu tetap terbuka. Ketiga kecenderungan tersebut, termasuk kontribusi Pitkin dalam mendokumentasikan kemajuan studi metodologis, bertemu pada satu pertanyaan yang belum terjawab: melalui mekanisme inferensial apa prosedur hermeneutis Calvin menghasilkan klaim epistemologis tentang struktur kognitif manusia? Jika intensi ilahi dan tekstual identik dalam Kitab Suci, maka prosedur hermeneutis Calvin berfungsi sebagai jalur epistemologis menuju pengenalan akan Allah itu sendiri, dan sensus divinitatis adalah nama teologis bagi struktur yang prosedur itu postulasikan. Artikel ini mengisi celah tersebut dengan merekonstruksi secara sistematis mekanisme tiga-tahap yang, sejauh penelitian ini dapat mengidentifikasi, belum pernah dianalisis sebagai satu gerakan inferensial yang berkesinambungan: pembacaan ontologis atas teks, integrasi melalui analogia fidei, dan inferensi antropologis yang niscaya dari logika internal wahyu. Rekonstruksi ini bersifat constructive-analytical, di mana prosedur hermeneutis Calvin tidak hanya dideskripsikan, tetapi diperlakukan sebagai struktur inferensial yang dapat diuji koherensinya secara internal. Argumen dikembangkan melalui empat gerakan. Pertama, subbab tentang formasi humanistis Calvin menetapkan bahwa orientasi pada intentio auctoris bukan sekadar warisan filologis, melainkan disposisi epistemis yang membentuk seluruh praksis penafsirannya. Kedua dan ketiga, analisis atas Mazmur 19 dan Roma 2:14-15 menunjukkan bagaimana dua medan kesaksian, ciptaan sebagai teks eksternal dan hati nurani sebagai teks internal, masing-masing menghasilkan separuh dari klaim yang kemudian diintegrasikan menjadi konsep sensus divinitatis. Keempat, rekonstruksi model inferensi hermeneutis menjelaskan mekanisme yang menghubungkan ketiga momen tersebut menjadi satu gerakan yang koheren, dan mengungkap spiral hermeneutis yang beroperasi di seluruh pemikiran Calvin. Formasi Humanistik sebagai Akar Metodologis Sebelum dikenal sebagai penafsir Kitab Suci, John Calvin terlebih dahulu membentuk dirinya sebagai penafsir teks klasik. Komentar atas De Clementia karya Seneca yang diterbitkan pada 1532, ketika Calvin baru berusia dua puluh dua tahun, memperlihatkan seorang pembaca yang telah memiliki disiplin filologis yang matang. Dalam komentar tersebut, Calvin secara konsisten menempatkan dirinya sebagai subyek yang aktif merekonstruksi makna: “I read DIDUCI (instead of deduci) against the testimony of the editions, to preserve the sense of ‘to be divided’ or ‘to be torn apart’” (Calvin 1969 [1532], p. 68), dan di tempat lain, “I read DEILLIOS, without the support of any reading, but by no light conjecture” (Calvin 1969 [1532], p. 107). Praktik ini memperlihatkan suatu disposisi epistemis yang khas: makna ditentukan melalui pertimbangan linguistik yang independen dan secara sadar diarahkan pada rekonstruksi intensi penulis, melampaui kebiasaan mengikuti otoritas edisi yang berlaku. Dalam horizon ini, intentio auctoris berfungsi sebagai prinsip pengarah yang sekaligus membatasi dan memungkinkan penarikan makna dari teks secara disiplin. Muller menegaskan bahwa “Calvin’s training in humanist rhetoric and dialectic exerts a pervasive influence over the form and methodological direction” dari seluruh karya penafsirannya (Muller 2000, 30), sementara Aubert menunjukkan bahwa formasi humanistik melalui tradisi ad fontes menanamkan kepekaan linguistik dan komitmen pada rekonstruksi makna yang dimaksudkan penulis sebagai kebajikan intelektual yang mendasar (Aubert 2022, 118). Kedalaman formasi humanistis ini semakin terlihat dalam cara Calvin membangun perangkat konseptual yang mengatur praktik penafsirannya. Definisi Calvin tentang alegori sebagai metafora yang berkelanjutan ditarik langsung dari retorika klasik: Cicero mendefinisikan alegori sebagai arus metafora yang menghasilkan ragam tuturan yang berbeda, sementara Quintilian mengembangkannya sebagai penyajian satu hal dalam kata-kata dan hal lain dalam makna. Dari akar retoris tersebut, Calvin merumuskan rule of similitude sebagai prinsip pengendali pembacaan: alegori memperoleh legitimasi hanya sejauh asosiasi metaforisnya tetap terikat pada narasi historis teks dan dikontrol oleh struktur linguistik yang melekat padanya. Prinsip ini menjelaskan mengapa Calvin menolak pembacaan alegoris tertentu atas Mazmur 19, bukan karena penolakan terhadap makna non-literal, melainkan karena pembacaan tersebut melanggar korespondensi antara tanda dan realitas yang ditandakannya sebagaimana ditentukan oleh konteks wacana. Dengan demikian, formasi humanistis Calvin tampil sebagai sumber kategori operasional yang konkret, yang membentuk praksis penafsirannya secara konsisten dari teks klasik hingga teks teologis. Disposisi filologis ini kemudian berlanjut dalam suatu kontinuitas metodologis ketika Calvin beralih dari teks klasik ke Kitab Suci. Ryoo mengamati bahwa Calvin memahami tugas penafsir sebagai upaya untuk “unfold the mind of the writer he has undertaken to expound” (Ryoo 2017, 29), sementara orientasi ini bertumpu pada keyakinan teologis bahwa intensi penulis manusiawi dan intensi Roh Kudus bersatu secara tak terpisahkan (Ryoo 2017, 31; Ahn 1999, 277). Muller memperjelas mekanisme kontinuitas ini dengan menunjukkan bahwa metode Calvin bergerak melalui “the running exposition of the biblical text in commentary and sermon, coupled with the elicitation of theological loci from the text,” sehingga Institutes dan komentar-komentarnya membentuk satu kesatuan hermeneutis yang saling melengkapi (Muller 2000, 29). Dengan demikian, orientasi pada intentio auctoris tidak ditinggalkan ketika Calvin memasuki ranah teologi, melainkan memperoleh intensifikasi melalui kerangka wahyu. Peralihan dari teks klasik ke Kitab Suci menghadirkan perluasan horizon tanpa mengubah struktur dasar prosedur. Studi modern telah menunjukkan bahwa peralihan ini juga memunculkan ketegangan hermeneutis internal dalam pemikiran John Calvin, khususnya antara komitmennya pada eksposisi gramatikal-historis dan orientasi teologis pembacaannya terhadap kesatuan wahyu. Anthony G. Baxter (1987) menunjukkan bahwa Calvin secara konsisten membatasi penggunaan alegori, sembari tetap mempertahankan pembacaan kristologis atas Kitab Suci melalui mekanisme seperti akomodasi dan tipologi, yang berfungsi sebagai jembatan antara metode eksegetis dan tujuan teologisnya. Analisis ini menunjukkan bahwa kontinuitas prosedural dalam hermeneutika Calvin berlangsung dalam suatu medan ketegangan yang terkelola. Namun, penjelasan tersebut berhenti pada tingkat deskriptif mengenai bagaimana ketegangan itu dimediasi, dan belum menelusuri mekanisme inferensial yang memungkinkan prosedur tersebut menghasilkan klaim epistemologis yang lebih luas. Dalam membaca De Clementia, Calvin tidak mengoperasikan analogia fidei, sebab tidak terdapat kerangka wahyu yang mengintegrasikan temuan filologis ke dalam kesatuan teologis yang lebih luas. Ketika beralih ke Kitab Suci, prosedur yang sama tetap dipertahankan, sementara horizon implikasinya diperluas melalui kehadiran analogia fidei sebagai prinsip koherensi teologis. Prinsip ini memastikan bahwa setiap makna partikular dibaca dalam relasinya dengan kesatuan wahyu ilahi (Aubert 2022, 119). Perluasan ini tidak mengubah metode, melainkan memperluas jangkauan konsekuensi yang dapat ditarik dari rekonstruksi intensi penulis. Dari titik ini, praktik filologis berkembang menjadi perangkat epistemologis yang mampu menghubungkan teks dengan realitas yang diacunya. Kontinuitas yang telah dimodifikasi ini menghasilkan konsekuensi epistemologis yang menentukan. Jika intensi penulis manusiawi dan intensi Roh Kudus dipahami sebagai satu kesatuan dalam Kitab Suci, dan jika prosedur hermeneutis Calvin diarahkan untuk merekonstruksi intensi tersebut secara disiplin, maka pembacaan tekstual memperoleh fungsi sebagai jalur epistemologis menuju realitas yang diacu oleh teks. Hermeneutika Calvin dengan demikian mengandaikan bahwa Kitab Suci memiliki daya referensial langsung terhadap realitas ilahi, sehingga kesimpulan yang ditarik dari pembacaan yang disiplin memiliki status ontologis. Dalam horizon ini, sensus divinitatis tampil sebagai konsekuensi dari suatu prosedur yang telah menunjukkan koherensinya sejak pembacaan atas Seneca, dan yang, ketika dioperasikan dalam kerangka analogia fidei, menghasilkan artikulasi tentang struktur kognitif manusia yang melampaui deskripsi tekstual semata. Wahyu sebagai Komunikasi Publik: Pembacaan Calvin atas Mazmur 19 Ketika John Calvin membuka komentarnya atas Mazmur 19, ia segera menetapkan intentio auctoris sebagai poros penafsirannya. Daud, demikian Calvin membaca, menempatkan ciptaan sebagai cermin yang memantulkan kemuliaan Allah kepada seluruh umat manusia: "it is very evident that the inspired poet here treats of the knowledge of God, which is naturally presented to all men in this world as in a mirror" (Calvin 1845, on Ps. 19:4). Calvin secara eksplisit menolak pembacaan alegoris yang menafsirkan langit sebagai para rasul dan matahari sebagai Kristus, dengan alasan bahwa pembacaan demikian menyimpang dari lingkup keseluruhan wacana dan merusak susunan argumen Mazmur itu sendiri. Orientasi pada intentio auctoris di sini bekerja sebagai mekanisme pembatas: hanya pembacaan yang setia pada maksud penulis yang dapat mengungkap apa yang sesungguhnya dinyatakan teks tentang struktur wahyu ilahi. Dari pembacaan yang disiplin itu, Calvin menarik suatu klaim ontologis yang melampaui konteks historis teks. Wahyu melalui ciptaan, ia tegaskan, beroperasi dalam bahasa yang melampaui batas linguistik dan kultural: "the heavens have a common language to teach all men without distinction, nor is there any thing but their own carelessness to hinder even those who are most strange to each other, and who live in the most distant parts of the world, from profiting, as it were, at the mouth of the same teacher" (Calvin 1845, on Ps. 19:3). Di sini Calvin bergerak dari eksposisi tekstual menuju klaim struktural tentang wahyu itu sendiri: komunikasi ilahi melalui ciptaan bersifat publik, universal, dan tersedia bagi seluruh manusia tanpa pembedaan. Klaim ini diperkuat ketika ia mendeskripsikan kemuliaan Allah sebagai sesuatu yang "not written in small obscure letters, but richly engraven in large and bright characters, which all men may read, and read with the greatest ease" (Calvin 1845, on Ps. 19:4). Wahyu dirancang sebagai tulisan terbuka untuk keterbacaan universal, suatu bentuk komunikasi yang secara inheren ditujukan kepada seluruh umat manusia. Namun, wahyu yang dirancang untuk semua manusia mengandung implikasi tentang penerimanya. Bahwa wahyu yang universal mengandaikan kapasitas reseptif yang universal bukan sekadar konsekuensi logis yang ditambahkan dari luar, melainkan beroperasi dalam kerangka Calvin sendiri, sebagaimana tampak dari cara ia menetapkan tanggung jawab atas kegagalan pengenalan. Dalam Institutes I.5.14, Calvin menegaskan bahwa manusia yang gagal mengenal Allah dari ciptaan tidak dapat berdalih pada ketidakcukupan wahyu, melainkan pada ingratitude mereka sendiri: wahyu telah hadir secara memadai, dan kegagalan itu sepenuhnya terletak pada pihak manusia. Penetapan tanggung jawab ini hanya koheren jika kapasitas untuk menerima wahyu telah lebih dahulu ada dalam diri manusia. Melalui analogia fidei, klaim ini memperoleh konsekuensi antropologis yang menentukan: struktur wahyu yang universal dan komunikatif mengandaikan struktur penerima yang sepadan. Calvin tidak membiarkan celah antara ketersediaan wahyu dan kemampuan manusia untuk menerimanya. Celah yang ia akui hanyalah celah antara kemampuan itu dan kehendak untuk menggunakannya. Pengakuan Calvin tentang supressio veritatis (Calvin 1845, I.4.1–2) memperkuat inferensi ini dari arah yang berlawanan: penindasan hanya mungkin terjadi atas kapasitas yang telah lebih dahulu hadir dan beroperasi. Kegagalan penerimaan wahyu yang "richly engraven" pada ciptaan dengan demikian menunjukkan kegagalan kehendak, bukan ketiadaan kapasitas. Pada titik inilah sensus divinitatis mulai memperoleh bentuknya sebagai kesimpulan hermeneutis. Ia muncul sebagai postulat yang niscaya dari logika internal wahyu sebagaimana dibaca Calvin dalam Mazmur 19, dan memperoleh koherensinya bukan dari asumsi antropologis awal, melainkan dari konsistensi prosedur hermeneutis yang menautkan struktur wahyu dengan struktur penerimanya. Medan kesaksian eksternal ini sekaligus menuntut padanannya dalam diri subyek manusia, suatu medan internal yang akan memperoleh artikulasinya melalui pembacaan Calvin atas Roma 2:14–15. Hati Nurani sebagai Medan Kesaksian Internal: Pembacaan Calvin atas Roma 2:14-15 Jika Mazmur 19 mengungkap ciptaan sebagai medan kesaksian eksternal yang bersifat publik dan universal, maka Roma 2:14–15 memperlihatkan dimensi yang melengkapi gerak tersebut pada tingkat internal. Dalam pembacaannya, Calvin menemukan bahwa kesaksian tentang Allah tidak hanya hadir dalam struktur kosmologis, tapi juga terukir dalam hati nurani subyek manusia. Pernyataan Paulus tentang bangsa-bangsa yang melakukan tuntutan Taurat “secara alamiah” dibaca Calvin sebagai indikasi adanya struktur kognitif yang bersifat universal dan inheren. Klaim ini ia jangkarkan pada observasi antropologis yang melampaui batas kultural, “there is no nation so lost to every thing human, that it does not keep within the limits of some laws … they have some notions of justice and rectitude … which are implanted by nature in the hearts of men” (Calvin 1849, on Rom. 2:14). Dimensi epistemologis pembacaan ini mencapai artikulasinya yang paling tajam ketika Calvin membahas fungsi hati nurani. Ia menegaskan bahwa hati nurani beroperasi sebagai locus internal di mana kesaksian tentang Allah hadir secara langsung dalam subyek manusia, dengan bobot evidensial yang dinyatakannya secara eksplisit: “He could not have more forcibly urged them than by the testimony of their own conscience, which is equal to a thousand witnesses” (Calvin 1849, on Rom. 2:15). Ungkapan “equal to a thousand witnesses” menunjukkan bahwa hati nurani bukan sekadar mekanisme moral, melainkan instrumen epistemis yang memiliki otoritas independen dalam menghasilkan pengenalan akan Allah. Lebih jauh, Calvin memperjelas bahwa yang dimaksud Paulus dengan “hati” dalam konteks ini menunjuk pada pusat pemahaman: “the word heart is to be taken … only for the understanding” (Calvin 1849, on Rom. 2:15). Dengan klarifikasi ini, hati nurani tampil sebagai kapasitas kognitif yang terstruktur, dan menempati domain epistemologis yang sejajar dengan artikulasi sensus divinitatis dalam Institutes. Baru pada titik ini gerak hermeneutis Calvin dapat dipahami dalam kesinambungannya dengan pembacaan atas Mazmur 19. Rekonstruksi intentio auctoris diikuti oleh integrasi melalui analogia fidei, sehingga klaim partikular yang muncul dalam teks diangkat ke tataran yang lebih luas sebagai pernyataan tentang struktur kognitif manusia secara umum. Konvergensi antara dua medan kesaksian ini, ciptaan sebagai teks eksternal dan hati nurani sebagai teks internal, mengungkap suatu asumsi yang lebih mendasar dalam prosedur hermeneutis Calvin. Wahyu ilahi beroperasi secara serentak pada dua level: level kosmologis yang tersedia bagi penglihatan semua manusia, dan level internal yang terukir dalam struktur kesadaran manusia itu sendiri. Calvin menyebut kapasitas ini sebagai “seeds of what is right implanted in their nature,” dan dari benih tersebut manusia dapat mengenali “that there is a God, and that honor and worship are due to him” (Calvin 1849, on Rom. 2:15). Dibaca dalam relasinya dengan Mazmur 19, pernyataan ini melengkapi gambar yang telah dibangun: wahyu yang “richly engraven” pada ciptaan menemukan resonansinya dalam benih kognitif yang terukir dalam diri manusia. Sensus divinitatis dengan demikian muncul sebagai nama teologis bagi titik temu antara dua medan kesaksian ini, suatu konsep yang lahir dari pembacaan konvergen atas dua teks melalui prosedur hermeneutis yang konsisten, dan yang memperoleh koherensinya justru dari kesatuan gerak tersebut. Model Inferensi Hermeneutis dan Asal-Usul Sensus Divinitatis Tiga subbab sebelumnya telah menelusuri tiga momen dalam satu gerakan yang sama. Dari De Clementia hingga Mazmur 19 hingga Roma 2, Calvin mengoperasikan satu prosedur hermeneutis yang konsisten: merekonstruksi intensi penulis secara disiplin, mengintegrasikan makna yang ditemukan ke dalam kerangka koherensi teologis melalui analogia fidei, dan dari keseluruhan gerakan tersebut menarik konsekuensi yang melampaui batas tekstual menuju klaim tentang realitas yang diacu oleh teks. Yang berubah bukan prosedurnya, melainkan jenis teks yang dihadapi dan horizon teologis yang memperluas jangkauan kesimpulannya. Kontinuitas ini memungkinkan rekonstruksi sistematis atas mekanisme inferensial yang menghasilkan sensus divinitatis sebagai konsep epistemologis. Ketiga momen tersebut dapat diformalkan sebagai satu model inferensi hermeneutis yang terdiri dari relasi premis–integrasi–konsekuensi, di mana setiap tahap berfungsi sebagai kondisi kemungkinan bagi tahap berikutnya. Model inferensi ini bergerak melalui tiga tahap yang saling mengandaikan. Tahap pertama adalah pembacaan ontologis atas teks: Calvin membaca Mazmur 19 dan Roma 2 sebagai mengandung klaim tentang struktur wahyu ilahi itu sendiri, yakni bahwa wahyu bersifat publik, universal, dan komunikatif dalam modusnya. Klaim ini ditarik dari teks melalui rekonstruksi intentio auctoris yang disiplin. Tahap kedua adalah integrasi melalui analogia fidei, di mana klaim partikular yang ditemukan dalam teks dihubungkan ke dalam kesatuan teologis yang lebih luas, sehingga wahyu eksternal dan internal dipahami sebagai dua modus dari satu realitas yang sama. Tahap ketiga adalah inferensi antropologis yang niscaya: struktur wahyu yang bersifat universal dan komunikatif mengandaikan keberadaan kapasitas reseptif yang sepadan dalam subyek manusia. Konfirmasi atas inferensi ini beroperasi dari dua arah. Dari arah tanggung jawab, Calvin menetapkan dalam Institutes I.5.14 bahwa kegagalan pengenalan sepenuhnya terletak pada ingratitude manusia, bukan pada ketidakcukupan wahyu, suatu penetapan yang hanya koheren jika kapasitas reseptif telah lebih dahulu ada. Dari arah penindasan, doktrin supressio veritatis (Calvin 1845, I.4.1–2) mengonfirmasi hal yang sama: yang ditindas adalah kapasitas yang telah beroperasi, bukan kapasitas yang tidak pernah ada. Spiral hermeneutis yang diperkenalkan di pendahuluan memperoleh penjelasan penuhnya pada titik ini. Wahyu yang dinyatakan dalam Kitab Suci mengandaikan adanya subyek yang mampu meresponsnya, sehingga keberadaan kapasitas reseptif menjadi kondisi bagi keterpahaman wahyu. Pada saat yang sama, kapasitas tersebut memperoleh artikulasi teologis melalui pembacaan Kitab Suci yang terstruktur oleh analogia fidei. Relasi ini membentuk suatu gerak timbal balik yang produktif, di mana setiap putaran memperjelas hubungan antara wahyu, kapasitas manusia, dan teks yang memediasi keduanya. Konsekuensi dari rekonstruksi ini bagi studi Calvin bersifat menentukan. Kajian seperti Aubert (2022) dan Ryoo (2017) telah mendeskripsikan metode Calvin dengan presisi tinggi, namun belum menjelaskan mekanisme yang menghasilkan klaim epistemologis dari prosedur tersebut. Artikel ini menunjukkan bahwa sensus divinitatis lahir di persimpangan antara prosedur hermeneutis dan logika internal wahyu: ia merupakan kesimpulan yang dipaksa keluar oleh konsistensi prosedur itu sendiri. Universalitasnya tidak bertumpu pada generalisasi empiris, melainkan pada struktur wahyu yang bersifat universal dan komunikatif. Dari struktur ini muncul tuntutan akan kapasitas reseptif yang sesuai, sehingga argumen bergerak dari ontologi wahyu menuju antropologi kognitif sebagai konsekuensi logis yang tak terelakkan. Simpulan Artikel ini memperlihatkan sensus divinitatis dalam pemikiran Calvin memperoleh statusnya sebagai konsep epistemologis yang koheren melalui suatu prosedur hermeneutis yang dapat direkonstruksi secara sistematis. Prosedur tersebut bergerak melalui tiga tahap yang saling mengandaikan: pembacaan ontologis atas teks yang mengungkap wahyu sebagai komunikasi ilahi yang bersifat publik dan universal, integrasi melalui analogia fidei yang menempatkan klaim partikular dalam kesatuan wahyu ilahi, dan inferensi antropologis yang niscaya. Dari struktur wahyu yang bersifat universal dan komunikatif, muncul tuntutan akan kapasitas reseptif yang bersifat universal pula sebagai kondisi bagi keterpahaman wahyu tersebut, sebagaimana dikonfirmasi dari dua arah oleh ingratitude manusia dalam Institutes I.5.14 dan supressio veritatis dalam I.4.1–2. Dengan menempatkan De Clementia, Mazmur 19, dan Roma 2 dalam satu lintasan metodologis yang berkesinambungan, artikel ini memperlihatkan bahwa sensus divinitatis lahir sebagai kesimpulan dari konsistensi prosedur hermeneutis tersebut. Statusnya tidak berasal dari premis teologis yang mendahului pembacaan, melainkan dari logika internal wahyu sebagaimana direkonstruksi melalui praktik penafsiran Calvin. Universalitasnya berakar pada struktur wahyu itu sendiri, bergerak dari ontologi menuju antropologi kognitif, dan memperoleh bentuk konseptualnya melalui disiplin hermeneutis yang beroperasi secara konsisten dari teks Seneca hingga teks Paulus. Implikasi dari argumen ini melampaui persoalan historiografis tentang cara membaca Calvin. Kajian-kajian dalam tradisi Aubert (2022), Ryoo (2017), Muller (2000), serta analisis hermeneutis oleh Baxter (1987), telah berhasil mendeskripsikan struktur metode Calvin dengan presisi tinggi, namun belum menjelaskan bagaimana prosedur tersebut menghasilkan klaim epistemologis yang lebih luas. Artikel ini menunjukkan, hermeneutika Calvin berfungsi sebagai kondisi kemungkinan bagi pengenalan akan Allah, karena ia mengandaikan korespondensi struktural antara cara wahyu bekerja dan cara kognisi manusia terstruktur untuk menerimanya. Korespondensi ini menempatkan sensus divinitatis sebagai titik temu antara ontologi wahyu dan epistemologi manusia. Dalam horizon ini, pertanyaan tentang pengenalan akan Allah tampil sebagai pertanyaan tentang relasi antara wahyu, teks, dan subyek yang membacanya. Rekonstruksi yang ditawarkan di sini membuka satu jalur penelitian lanjutan: apakah model inferensial yang sama dapat ditemukan dalam tradisi Reformed pasca-Calvin, atau justru menandai kekhasan Calvin dalam mengartikulasikan relasi antara wahyu dan struktur kognitif manusia. Rujukan Ahn, M.J., 1999. The ideal of brevitas et facilitas: the theological hermeneutics of John Calvin. Skrif en Kerk, 20(2), pp.270–281. Aubert, B., 2022. Calvin and the interpretation of Scripture. Verbum Christi: Journal of Reformed Evangelical Theology, 9(2), pp.115–131. Baxter, A.G. (1987) John Calvin’s Use and Hermeneutics of the Old Testament. PhD thesis. University of Sheffield. Calvin, J., 1969 [1532]. Calvin's Commentary on Seneca's De Clementia. Edited and translated by F.L. Battles and A.M. Hugo. Leiden: E.J. Brill. Calvin, J., 1849. Commentaries on the Epistle of Paul the Apostle to the Romans. Translated by J. Owen. Edinburgh: Calvin Translation Society. Calvin, J., 1845. Institutes of the Christian Religion. Translated by H. Beveridge. Grand Rapids: Christian Classics Ethereal Library. Calvin, J., 1845. Commentary on the Book of Psalms, Vol. 1. Translated by J. Anderson. Edinburgh: Calvin Translation Society. Helm, P., 2004. John Calvin's Ideas. Oxford: Oxford University Press. Muller, R.A., 2000. The Unaccommodated Calvin: Studies in the Foundation of a Theological Tradition. New York: Oxford University Press. Plantinga, A., 1980. The Reformed objection to natural theology. Proceedings of the American Catholic Philosophical Association, 54, pp.49–62. Plantinga, A., 2000. Warranted Christian Belief. New York: Oxford University Press. Ryoo, D.E.Y., 2017. Learning from Calvin's methodology of biblical interpretation. Unio Cum Christo, 3(1), pp.19–36.