General
Draft

KERAJAAN ALLAH DALAM DUNIA YANG SUSAH

Dunia kontemporer bergerak dalam ketidakpastian struktural yang semakin dalam. Laporan Bank Dunia tahun 2026 menunjukkan pemulihan ekonomi global berlangsung tidak merata. Sejumlah negara belum mencapai tingkat sebelum pandemi, prospek ke depan menghadapi risiko penurunan, dan pertumbuhan belum menciptakan lapangan kerja yang memadai bagi populasi usia produktif (World Bank 2026, 5–6). Konflik global mempercepat kerentanan tersebut dengan menghapus capaian pembangunan dalam waktu singkat dan mendorong jutaan orang kembali ke dalam kemiskinan (Shalal and George 2026). Di Indonesia, kondisi ini tampak dalam ketidakmampuan sebagian masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sekaligus dalam kedalaman ketimpangan yang tercermin melalui rasio Gini serta indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan (BPS 2025). Situasi ini menyingkap relasi sosial yang timpang dan distribusi kesejahteraan yang tidak merata. Data ini membuka pertanyaan tentang arah kehidupan bersama. Ke mana dunia bergerak dan siapa yang menentukan arah tersebut. Di titik ini, pertanyaan teologis lahir dari dalam keretakan itu sendiri. Di manakah Allah memerintah ketika arah kehidupan bersama kehilangan kejelasan. Pertanyaan ini menuntut jawaban yang menyentuh struktur realitas yang rapuh dan berubah. Pertanyaan tersebut mencari orientasi yang memungkinkan manusia tetap berdiri dan bertindak di tengah kondisi yang ada. Dalam horizon N. T. Wright, pembaruan ciptaan membuka arah bagi pembentukan relasi ekonomi yang lebih adil melalui praktik yang melindungi kelompok rentan. Dalam kerangka Rudolf Bultmann, Kerajaan Allah hadir sebagai peristiwa yang menuntut keputusan eksistensial yang menentukan arah hidup kini. Dalam perspektif John D. Zizioulas, persekutuan iman menghadirkan solidaritas yang membentuk praktik ekonomi pada tingkat komunitas. Doa “jadilah kehendak-Mu di bumi” (Mat. 6:10) mengarahkan keterlibatan dalam tindakan konkret yang menyentuh relasi sosial, pekerjaan, dan kehidupan bersama sebagai partisipasi dalam tindakan Allah. Artikel ini mempertemukan tiga suara teologis yang membuka sekaligus menguji pemahaman tentang Kerajaan Allah. Bultmann menempatkan Kerajaan sebagai peristiwa yang datang dari Allah dan menuntut keputusan kini (Bultmann 1958, 23, 25). Wright menempatkan Kerajaan dalam dinamika sejarah sebagai inaugurasi zaman yang bekerja dalam ciptaan (Wright 2012, 37). Zizioulas menempatkan Kerajaan dalam partisipasi komunal yang berakar pada kehidupan Allah (Zizioulas 2011, 39–40). Ketiganya membuka medan teologis yang menempatkan keputusan, pembaruan, dan persekutuan dalam relasi yang saling menuntut. Dalam keterjalinan yang tegang ini, Kerajaan Allah tampil sebagai orientasi yang menghubungkan tindakan Allah, sejarah dunia, dan kehidupan bersama dalam satu gerak yang terbuka. Mengenal Kerajaan Allah Doa yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya mengungkap kerinduan yang terus hidup: "datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga" (Mat. 6:10). Doa ini lahir dari dunia yang bergerak dalam ketegangan antara harapan dan kegelisahan serta mengarahkan manusia pada realitas yang sedang datang. Istilah Yunani "basileia" menunjuk pada pemerintahan Allah sebagai peristiwa yang berlangsung, suatu realitas dinamis di mana kuasa Allah menjadi nyata dalam sejarah (Kassühlke 1974, 236). Seruan ini menyatakan pengakuan bahwa tindakan Allah bekerja di tengah dunia yang rapuh dan membentuk arah kehidupan bersama. Tradisi teologis modern menangkap horizon ini secara tajam. "Gaudium et Spes" menempatkan pengalaman manusia dan panggilan iman dalam satu medan yang sama, di mana kegembiraan dan penderitaan dunia menjadi bagian dari kesadaran iman (Konferensi Waligereja Indonesia 2021, §1, §4). Dalam terang ini, doa "datanglah Kerajaan-Mu" mengarahkan manusia untuk mengenali kehadiran Allah yang bekerja dalam sejarah sebagai realitas yang terbuka. Doa ini hadir sebagai praktik yang membentuk orientasi hidup. Seruan "datanglah Kerajaan-Mu" bekerja sebagai tindakan yang menata kehendak dan membuka partisipasi dalam realitas yang diantisipasi. Dalam tindakan berdoa, manusia memasuki relasi antara kata yang diucapkan dan realitas yang dihidupi, sehingga doa membentuk orientasi ontologis yang mengarahkan eksistensi pada tindakan Allah dalam sejarah. Doa menjadi tindakan yang menempatkan manusia dalam medan di mana sejarah, persekutuan, dan keputusan bertemu secara konkret. Wright membaca doa ini dalam kerangka pemulihan narasi Kerajaan yang tereduksi dalam tradisi modern. Ia menegaskan bahwa Injil menghadirkan kedatangan Kerajaan Allah sebagai inaugurasi zaman yang akan datang di dalam sejarah kini, suatu realitas di mana pemerintahan Allah bekerja dalam dunia (Wright 2012, 37). Kerajaan dipahami sebagai pertemuan antara "ruang Allah" dan "ruang manusia" yang saling berjalin dalam karya Kristus, sehingga doa "datanglah Kerajaan-Mu" menunjuk pada hadirnya pemerintahan Allah di bumi sebagai pembaruan ciptaan (Wright 2016, 162). Dalam kerangka ini, sejarah menjadi ruang aktualisasi di mana Allah bertindak membawa keadilan, damai, dan pemulihan dunia (Wright 2012, 44–45). Zizioulas memperluas horizon ini pada tingkat ontologis dengan menempatkan Kerajaan dalam partisipasi komunal yang berakar pada kehidupan Allah Tritunggal. Liturgi dipahami sebagai tindakan yang memanggil, merepresentasikan, dan mengaktualkan Kerajaan melalui persekutuan umat dalam kehidupan ilahi (Zizioulas 2011, 39–40). Dalam kerangka ini, masa depan eskatologis bekerja sebagai dasar ontologis bagi masa kini, sehingga kehidupan gereja mengambil bentuk sebagai partisipasi dalam realitas yang akan datang yang memberi keberadaan dan makna bagi kehidupan sekarang (Zizioulas 2008, 137; 2011, 45). Bultmann membawa persoalan ini kepada kedalaman eksistensi manusia dengan menegaskan Kerajaan Allah sebagai tuntutan keputusan yang menentukan arah hidup (Bultmann 1958, 33; 1984, 9). Kerajaan hadir sebagai peristiwa yang mengarahkan manusia pada tindakan kini, sehingga doa mengambil bentuk sebagai keputusan eksistensial yang mengaktualkan orientasi tersebut dalam keberadaan konkret. Ketiga pendekatan ini membentuk medan ketegangan yang tidak dapat direduksi. Pembacaan historis Wright menempatkan Kerajaan dalam narasi pembaruan dunia yang berlangsung dalam sejarah, sementara pendekatan eksistensial Bultmann menempatkan momen keputusan sebagai locus utama aktualisasi Kerajaan, sehingga terbuka ketegangan antara inaugurasi historis dan intensitas eksistensial sebagai pusat pemahaman teologis. Dalam arah yang berbeda, visi komunal Zizioulas menempatkan Kerajaan dalam partisipasi relasional yang berakar pada kehidupan ilahi, sehingga pengalaman iman mengambil bentuk dalam persekutuan yang mengantisipasi masa depan eskatologis (Zizioulas 2008, 129–131). Ketegangan ini mengungkap bahwa sejarah, persekutuan, dan keputusan tidak dapat dipahami secara terpisah, melainkan saling menuntut dalam satu struktur yang utuh. Dalam struktur ini, perhatian diarahkan pada Bultmann karena ia menempatkan persoalan Kerajaan Allah pada titik di mana seluruh orientasi tersebut mengambil bentuk sebagai keputusan yang dihidupi sekarang. Pendekatan historis membuka arah pembaruan, pendekatan komunal memberi bentuk relasional, dan pendekatan eksistensial menghadirkan aktualisasi konkret di mana keduanya memperoleh intensitasnya. Pada titik ini, seluruh dimensi bertemu dalam eksistensi manusia, sehingga pendekatan Bultmann menjadi locus yang paling menentukan untuk menyingkap kekuatan sekaligus batas dari pemahaman tentang Kerajaan Allah. Dimensi yang Lebih Dalam Kontribusi pertama Bultmann terletak pada kejujurannya terhadap sifat Kerajaan Allah sebagai peristiwa ilahi yang datang dari Allah sendiri. Dalam Jesus and the Word ia menegaskan bahwa Kerajaan Allah “is not an ideal which realizes itself in human history… it draws near, it comes, it appears,” bahkan “no ‘highest good’… realized through human conduct” (Bultmann 1958, 22–23). Dalam kerangka ini, Kerajaan Allah hadir sebagai tindakan yang mendahului dan melampaui setiap konstruksi manusia, sehingga arah geraknya berasal dari Allah menuju manusia. Posisi ini menghadirkan koreksi mendasar terhadap optimisme historis yang mengaitkan realisasi Kerajaan dengan progres manusia, dan mengembalikan Kerajaan Allah pada karakter dasarnya sebagai peristiwa ilahi yang melampaui kendali proyek sejarah. Penegasan ini berlanjut dalam New Testament and Mythology and Other Basic Writings, di mana Kerajaan dipahami sebagai peristiwa transenden yang menuntut respons konkret dalam eksistensi manusia (Bultmann 1984, 9). Bultmann menekankan Kerajaan Allah sebagai peristiwa yang mendekat dari Allah kepada manusia, suatu tindakan yang datang dari luar sejarah manusia dan menuntut respons kini. Dalam arah ini, John Calvin membuka dimensi yang tidak diartikulasikan secara eksplisit oleh Bultmann, yaitu bagaimana peristiwa tersebut memasuki kehendak manusia dan bekerja dari dalam. Calvin menempatkan pemerintahan Allah sebagai tindakan yang membarui kehendak melalui Roh Kudus (Calvin 1960, 2.5.14–15), sehingga peristiwa yang datang itu mengambil bentuk sebagai transformasi subjek. Dalam kerangka ini, keputusan yang dituntut oleh Kerajaan muncul sebagai hasil dari tindakan Allah yang lebih dahulu bekerja dalam diri manusia. Transformasi kehendak ini mengarahkan manusia keluar dari dirinya menuju dunia yang dihadapinya. Keputusan eksistensial membentuk orientasi tindakan yang berhadapan langsung dengan kondisi konkret kehidupan. Dalam arah ini, pembacaan teologis dari konteks Indonesia menunjukkan bahwa tindakan ilahi tersebut tampil sebagai konfrontasi nyata dalam sejarah. Kerajaan Allah dikenali sebagai realitas yang hadir melalui perlawanan terhadap kuasa yang merusak kehidupan, sehingga kehadirannya termanifestasi dalam pertarungan konkret dengan struktur yang menindas dan merusak (Lappu and Suwanto 2023, 104–105). Tindakan Allah membentuk subjek sekaligus mengarahkan subjek tersebut ke dalam medan historis di mana kuasa-kuasa tersebut beroperasi. Di sini batas pendekatan Bultmann tampil dengan jelas. Penekanan pada keputusan eksistensial mengarahkan Kerajaan Allah pada horizon kesadaran individual, sehingga relasi antar-subjek dan dinamika sejarah memerlukan pengembangan lebih lanjut dalam kerangka pemahamannya. Penekanan ini berlanjut dalam dimensi urgensi eksistensial. Dalam Jesus and the Word, Rudolf Bultmann memahami Kerajaan Allah sebagai “the transcendent event… the ultimate Either-Or,” suatu tuntutan yang mengarahkan manusia pada keputusan yang menentukan arah hidup (Bultmann 1958, 25). Seruan ini hadir sebagai undangan yang sekaligus tuntutan (Bultmann 1958, 20), sehingga iman mengambil bentuk sebagai tindakan yang mengaktualkan respons terhadap Kerajaan dalam keberadaan konkret. Dalam kerangka ini, keputusan eksistensial menjadi locus di mana Kerajaan Allah dihidupi sebagai realitas yang menuntut respons kini. Namun, pada titik ini batas pendekatan Bultmann tampil dengan jelas. Penekanan pada keputusan eksistensial mengarahkan Kerajaan Allah pada horizon kesadaran individual, sehingga relasi antar-subjek dan dinamika sejarah menuntut artikulasi yang lebih luas. Ketika Kerajaan dipahami terutama sebagai momen keputusan yang dihadapi subjek, maka dimensi komunal dan historis tidak memperoleh tempat yang memadai dalam struktur pemahamannya. Keterbatasan ini menyentuh dimensi ontologis secara langsung. Wright menegaskan bahwa inti Injil terletak pada kedatangan Kerajaan Allah sebagai inaugurasi zaman yang akan datang di dalam sejarah kini, suatu realitas di mana Allah bertindak membawa pembaruan ciptaan di tengah “present age” (Wright 2012, 37, 44–45). Di sini tampak tekanan Wright terletak pada pemulihan narasi Kerajaan yang hilang dalam Kekristenan modern, khususnya pemisahan antara surga dan bumi serta reduksi keselamatan menjadi pengalaman individual (Wright 2016, 147, 160, 162) . Dalam kerangka ini, Kerajaan dipahami sebagai tindakan Allah yang datang ke bumi dan mengarahkan sejarah menuju pembaruan ciptaan. Pendekatan ini memberi kedalaman historis-kosmis yang kuat, sekaligus menyisakan pertanyaan tentang bagaimana arah naratif tersebut dihayati dalam situasi konkret yang tidak selalu mengikuti pola perkembangan yang stabil. Pada saat yang sama, Zizioulas menempatkan persoalan pada tingkat ontologis dengan mengkritik pergeseran keselamatan menjadi pengalaman individual yang terlepas dari horizon eskatologis. Ia menunjukkan bahwa keselamatan dalam tradisi tertentu telah bergeser dari harapan akan dunia baru dengan komunitas dan struktur yang diperbarui menuju pemurnian jiwa individual (Zizioulas 2008, 129). Dalam kerangka ini, Zizioulas menegaskan bahwa eskaton berfungsi sebagai dasar ontologis yang membentuk keberadaan kini, sehingga realitas gereja dan liturgi berakar pada masa depan yang memberi makna bagi masa kini (Zizioulas 2008, 131, 137; 2011, 45). Partisipasi komunal dalam kehidupan Allah Tritunggal memperoleh bentuknya dalam liturgi sebagai tindakan yang menghadirkan persekutuan dengan kehidupan ilahi (Zizioulas 2011, 39–40) . Pendekatan ini memberi kedalaman ontologis yang kuat, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana partisipasi komunal tersebut menjangkau realitas manusia di luar horizon persekutuan yang eksplisit. Pendekatan Zizioulas memberi kedalaman ontologis dengan menempatkan Kerajaan dalam partisipasi komunal yang berakar pada kehidupan Allah Tritunggal, sehingga persekutuan menjadi ruang di mana realitas eskatologis diantisipasi dan dihidupi. Namun, pada titik ini muncul pertanyaan kritis yang tidak dapat dihindari. Dalam sejarah konkret, persekutuan gerejawi sering tampil dalam bentuk institusi yang tidak sepenuhnya bebas dari relasi kuasa yang timpang, bahkan dalam beberapa kasus turut mereproduksi ketidakadilan struktural. Dalam kondisi ini, klaim komunio tidak dapat diterima secara langsung sebagai realisasi Kerajaan, melainkan menuntut pembedaan yang tajam antara persekutuan yang sungguh berakar pada kehidupan ilahi dan bentuk-bentuk sosial yang hanya menyerupainya. Dengan demikian, dimensi komunal tidak hanya memperluas pemahaman tentang Kerajaan, tetapi juga membuka ruang kritik terhadap gereja itu sendiri sebagai subjek yang harus terus diperbarui dalam terang eskaton. Ketegangan yang telah diuraikan mengambil bentuk yang dapat dirasakan dalam pengalaman konkret. Seorang buruh pabrik yang kehilangan pekerjaan berdiri bersama rekan-rekannya di depan gerbang perusahaan, memutuskan untuk ikut mogok sambil tetap memikirkan keluarganya yang bergantung pada penghasilan hariannya. Ia berdoa “datanglah Kerajaan-Mu” di tengah situasi yang tidak memberi kepastian. Dalam tindakan ini, dimensi eksistensial yang ditunjukkan oleh Bultmann hadir sebagai keputusan yang tidak dapat ditunda: tetap berdiri atau menyerah. Pada saat yang sama, dimensi historis-kosmis yang ditekankan oleh Wright menempatkan tindakan tersebut dalam horizon yang lebih luas, di mana pembaruan tidak ditentukan oleh hasil segera, melainkan oleh arah yang sedang dikerjakan Allah dalam sejarah. Dimensi komunal yang diperdalam oleh Zizioulas hadir ketika doa itu diucapkan bersama dan tindakan itu dijalankan dalam solidaritas yang saling menopang. Ketegangan tidak hilang, tetapi dihidupi sebagai keputusan yang terus diperbarui di antara risiko, harapan, dan kebersamaan. Dari ketegangan ini, tesis esai ini memperoleh bentuknya. Kerajaan Allah dalam dunia yang susah hadir sebagai keterjalinan yang tegang antara keputusan eksistensial, pembaruan historis-kosmis, dan partisipasi komunal-trinitaris yang berakar pada eskaton. Keputusan menghadirkan intensitas respons manusia, sejarah menghadirkan arah pembaruan ciptaan, dan persekutuan menghadirkan bentuk ontologis dari kehidupan yang diperbarui. Dalam keterjalinan ini, Kerajaan Allah dihidupi sebagai orientasi yang memampukan manusia berdiri dan bertindak di tengah kesusahan, sebagai partisipasi dalam tindakan Allah yang datang, bekerja, dan menggenapi dunia. Dunia yang Susah dalam Terang Kerajaan Allah Ketiga teolog yang telah dipertemukan berbicara dari konteks yang ditempa oleh krisis sejarah dan pergumulan intelektual yang panjang. Refleksi mereka membuka horizon teologis yang mengarah pada cara manusia berpijak di tengah kondisi yang berat. Pertanyaan tentang Kerajaan Allah memperoleh bobotnya ketika kehidupan bersama kehilangan kestabilan dan arah. Kondisi itu hadir secara konkret dalam pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, meningkatnya kerentanan sosial, dan capaian pembangunan yang tergerus oleh konflik global (World Bank 2026, 5–6; Shalal and George 2026). Tekanan ini membentuk situasi di mana masa depan tidak terbaca dengan pasti dan keberlangsungan hidup menjadi persoalan harian. Dalam ruang seperti ini, iman hadir sebagai cara berada di dalam realitas yang terus berubah. Seruan Yesus, “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:10), mengambil bentuk sebagai tindakan yang lahir dari dalam tekanan hidup. Ia diucapkan oleh mereka yang hidup tanpa jaminan, yang menghadapi kekurangan dan ketidakpastian sebagai kondisi yang berulang (Luk. 6:20–21). Doa ini menempatkan manusia dalam relasi yang mengarahkan hidup kepada Allah sekaligus membentuk cara bertindak di tengah kondisi yang tetap berat. Orientasi ini mengambil bentuk dalam tindakan yang konkret. Keputusan yang diambil dalam situasi sulit menentukan arah keberpihakan, praktik ekonomi membentuk relasi yang lebih adil, dan kehidupan bersama memberi ruang bagi solidaritas yang nyata. Iman bergerak dalam pilihan yang memiliki konsekuensi, dalam keterlibatan yang menyentuh pekerjaan dan relasi sosial, serta dalam kebersamaan yang menopang keberlangsungan hidup. Dalam gerak ini, doa bekerja sebagai tindakan yang mengarahkan hidup. Dalam konteks global yang mengalami disorientasi, orientasi ini tampil dalam praktik kepemimpinan gerejawi yang bergerak ke arah pinggiran. Kepemimpinan Paus Leo XIV memperlihatkan bela rasa terhadap kaum miskin melalui kunjungan apostolik ke Afrika di tengah krisis global 2025–2026, yang menempatkan gereja dalam kedekatan dengan wilayah yang mengalami kerentanan paling dalam (Vatican News 2026). Tindakan ini menghadirkan persekutuan sebagai kehadiran yang memasuki realitas konkret, sehingga orientasi kepada Kerajaan Allah tampil sebagai gerak yang menyatukan solidaritas, sejarah, dan tindakan dalam satu arah yang hidup. Seruan “datanglah Kerajaan-Mu” hadir dalam situasi yang tidak memberikan kepastian. Ia menempatkan manusia dalam arah yang dijalani melalui keputusan, tindakan yang terus diperbarui, dan kehidupan bersama yang membentuk daya tahan menghadapi tekanan. Kerajaan Allah hadir sebagai tindakan Allah yang bekerja dalam dunia dan mengundang keterlibatan manusia di dalamnya. Simpulan Artikel ini berangkat dari kenyataan yang menuntut perhatian serius: dunia mengalami disorientasi yang melampaui krisis ekonomi. Pertumbuhan melemah, ketimpangan melebar, dan konflik menghapus capaian pembangunan dalam waktu singkat. Fenomena ini menandai arah sejarah yang terbuka dan terus mencari bentuknya. Pada titik ini, pertanyaan tentang Kerajaan Allah memperoleh bobotnya. Bultmann, Wright, dan Zizioulas menunjukkan bahwa Kerajaan Allah berbicara paling jelas di dalam kesusahan sebagai tuntutan keputusan yang diambil sekarang, sebagai pembaruan yang bekerja dalam sejarah, dan sebagai persekutuan yang memberi bentuk pada kehidupan bersama. Yang menentukan terletak pada medan ketegangan yang mereka buka bersama. Pendekatan eksistensial menempatkan manusia pada momen keputusan yang perlu dijalani, pendekatan historis mengarahkan perhatian pada dinamika pembaruan dunia yang berlangsung, dan pendekatan ontologis-komunal menempatkan kehidupan manusia dalam relasi yang dibentuk oleh partisipasi dalam kehidupan ilahi. Setiap pendekatan menghadirkan dimensi yang berdiri dengan bobotnya sendiri, sehingga Kerajaan Allah hadir dalam keterjalinan yang tegang antara kehendak yang memutuskan, sejarah yang diperbarui, dan persekutuan yang dihidupi bersama. Dalam kerangka ini, doa “datanglah Kerajaan-Mu” mengarahkan hidup untuk menatap kenyataan secara langsung dan bergerak dalam arah Allah di tengahnya. Doa ini membentuk cara berada di dalam dunia sebagai tindakan yang mengarahkan kehendak, membuka horizon keterlibatan, dan menempatkan manusia dalam relasi yang menghasilkan respons konkret. Kesaksian Kitab Suci memperdalam orientasi ini dalam bentuk yang langsung terkait dengan Kerajaan Allah. Yesus menyerukan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” (Mat. 6:33), suatu arah hidup yang menempatkan keputusan manusia dalam keterkaitan dengan tindakan Allah. Dalam pengajaran-Nya tentang penghakiman, Ia mengaitkan Kerajaan dengan tindakan konkret terhadap yang lapar, yang asing, dan yang menderita (Mat. 25:35–40), sehingga orientasi kepada Kerajaan mengambil bentuk dalam praksis yang menyentuh kehidupan nyata. Rasul Paulus menegaskan bahwa “Kerajaan Allah adalah kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:17), yang menempatkan kehidupan etis dan relasional sebagai ekspresi dari pemerintahan Allah. Dalam keterjalinan ini, doa tidak hanya membentuk keteguhan batin, tetapi mengarahkan hidup pada tindakan yang berpihak, relasi yang diperbarui, dan keterlibatan yang konkret di tengah dunia. Menemukan Kerajaan Allah dalam dunia yang susah berarti berdiri di dalam ketegangan antara dunia yang terus bergerak dan janji yang sedang datang, lalu memutuskan, bertindak, dan bersekutu. Dalam ketegangan ini, Kerajaan Allah hadir sebagai orientasi yang menuntut respons yang terus diperbarui. Ia dihidupi dalam keputusan yang diambil sekarang, dalam tindakan yang mengarah pada pembaruan, dan dalam persekutuan yang memberi bentuk pada kehidupan bersama. Dalam keterjalinan ini, manusia bergerak di dalam arah Allah yang bekerja di tengah dunia yang terus berubah. Rujukan Badan Pusat Statistik (BPS). 2025. Statistik Indonesia 2025. Bultmann, Rudolf. 1958. Jesus and the Word. Bultmann, Rudolf. 1984. New Testament and Mythology and Other Basic Writings. Edited by Schubert M. Ogden. Calvin, John. 1960. Institutes of the Christian Religion. Edited by John T. McNeill. Translated by Ford Lewis Battles. Kassühlke, Rudolf. 1974. “An Attempt at a Dynamic Equivalent Translation of Basileia tou Theou.” The Bible Translator 25 (2): 236–238. Konferensi Waligereja Indonesia. 2021. Gaudium et Spes: Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini. Lappu, Sabriel Milleanno, and Wilson Wiwi Suwanto. 2023. “Konfrontasi Kerajaan Allah terhadap Kuasa Iblis dalam Injil Sinoptik.” Journal of Religious and Socio-Cultural 4 (2): 103–129. Shalal, Andrea, and Libby George. 2026. “UN Development Chief Says $6 Billion Investment Could Save 32 Million People from War-Induced Poverty.” Reuters, April 15, 2026. Vatican News. 2026. "Pope Leo XIV in Africa: A Pilgrimage of Solidarity amidst Global Crisis." April 20, 2026. World Bank. 2026. Global Economic Prospects. Wright, N. T. 2012. How God Became King: The Forgotten Story of the Gospels. ___. 2016. The Day the Revolution Began: Reconsidering the Meaning of Jesus’s Crucifixion. Zizioulas, John D. 2008. Lectures in Christian Dogmatics. Edited by Douglas Knight. ___. 2011. The Eucharistic Communion and the World. Edited by Luke Ben Tallon.